Rabu, 11 Februari 2009

Panitia Medis Pengendalian Infeksi

Nosokomial berasal dari bahasa Yunani dari kata noso yang artinya penyakit dan komeo yang artinya merawat. Nosokomion berarti tempat untuk merawat atau RS. Jadi infeksi nosokomial dapat diartikan sebagai infeksi yang diperoleh atau terjadi di RS. Infeksi nosokomial dikenal pertama kali pada tahun 1847 oleh Semmelweis. Angka infeksi nosokomial yang tercatat di beberapa negara berkisar antara 3,3%-9,2%, artinya sekian persen penderita yang dirawat tertular infeksi nosokomial dan dapat terjadi secara akut ataupun kronik. Saat ini, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan patokan mutu pelayanan RS.
Saat ini perhatian terhadap infeksi nosokomial di sejumlah rumah sakit di Indonesia cukup tinggi. Tingginya angka kejadian infeksi nosokomial dapat menunjukan turunnya kualitas mutu pelayanan medis, sehingga perlu adanya upaya pencegahan dan pengendaliannya.
Rumah sakit adalah unit kerja dengan tugas utamanya memberikan pelayanan medis komprehansif dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif. Pelayanan medis dalam bentuk promotif adalah upaya agar penderita dapat yang sedang dalam asuhan keperawatan termotivasi cepat sembuh dan diharapkan agar penderita dapat meningkatkankualitas hidupnya pasca – asuhan keperawatan.
Pelayanan medis dalam bentuk preventif adalah upaya melindungi penderita yang masih menjalani proses asuhan keperawatan agar tidak memperoleh resiko terjadinya invasi mikroba pathogen karena adanya prosedur dan tindakan medis. Invasi mikroba pathogen harus dicegah agar tidak menimbulkan infeksi nosokomial.
Pelayanan medis dalam bentuk kuratif adalah upaya untuk diagnosis beserta pengobatannya melalui berbagai prosedur dan tindakan medis, termasuk pemberian terapi medikamentosa. Prosedur dan tindakan medisyang tidak aman dan tidak procedural dapat memberi peluang terjadinya infeksi nosokomial. Sedangakan pelayanan medis dalam bentuk rehabilitatif adalah upaya tindak lanjut setelah pelayanan medis dalam bentuk kuratif berakhir agar penderita cepat pulih secara fisik, psikis, dan social.
Dalam rincian fungsi pelayanan medis tersebut, mengamankan dan melindungi penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan adalah tugas dan tanggung jawab semua petugas (health provider). Artinya bukan semata-mata tugas atau tanggung jawab petugas yang langsung merawat penderita, tetapi juga bagi petugas yang bertugas di unit-kerja yang lain seperti laboratorium, dapur, instalasi (CSDD/ISS), dan lain-lain.
Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial tidak berbeda dengan penyakit infeksi lainnya, yaitu dengan metode “ memotong rantai penularan “ agar invasi mikroba pathogen tidak terjadi.
Sasaran yang perlu diwaspadai dalam upaya ini ada tiga, yaitu:
1.Sumber Penularan
Seperti lingkungan rumah sakit, petugas, keluarga / pengunjung dan penderita lainnya peralatan medis yang digunakan.
2. Obyek penularan
Penderita yang sedang dalam asuhan keperawatan, khususnya yang yang berada pada kondisi rentan.
3. Cara pemindahan mikroba patogen
Mekanisme transmisi mokroba pathogen dari sumber penularan ke obyek penularan.

Kewaspadaan standar di setiap unit kerja

Rumah sakit adalah “gudang “ mikroba pathogen menular yang bersumber terutama pada penderita penyakit menular. Semakin besar rumah sakit ( jumlah tempat tidur, fasilitas, serta jangkauan palayanan ), maka semakin besar pula peluang penularan dan kompleksitas permasalahan yang harus dihadapi.
Karena sifat infeksi sangat spesifik, maka pihak manajemen rumah sakit membentuk sebuah unit kerja khusus di luar unit kerja structural yang telah ada yang diberi nama Panitia Medik Pengendalian Infeksi dan bersifat independent. Panitia ini mempunyai kewajiban yang terkait dengan permasalahan pencegahan infeksi serta bertanggung jawab kepada manajemen atau direktur rumah sakit.
Panitia Medis Pengendalian Infeksi sebagai sebuah unit kerja memerlukan adanya bentuk atau format organisasi serta mekanisme kerja. Sesuai dengan format organisasi, pembagian tugas dan wewenang disusun secara berjenjang dari perencanaan, koordinasi dan supervise hingga pelaksanaan di lapangan. Pembagian tugas-tugas itu antara lain:

a.Panitia Medis Pengendalian Infeksi
1.Membuat kebijakan (policy) pengendalian infeksi
2.Menetapkan standar atau criteria diagnosis
3.Menyususn dan menetapkan kewaspadaan standar bagi Unit Pelaksana Fungsional
4.Mengkaji ulang laporan berkala yang disusun oleh tim pengendalian infeksi
5.Menyampaikan analisis perkembangan infeksi nosokomial disertai saran atau rekomendasi kepada direktur rumah sakit yang disampaikan secara berkala.
6.Menyusun program pelatihan
7.Mengadakan pertemuan berkala
b.Tim pengendali Infeksi (jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan)
1.Menjabarkan kebijakan pengendalian infeksi
2.Koordinasi dan supervise di lapangan atas pelaksaan kewaspadaan standar dan surveilans
3.Mengolah dan menganalisis data yang diperoleh di lapangan (hasil surveilans) untuk disampaikan kepada Panitia Medis Pengendalian Infeksi yang dibuat secara berkala
4.Mengadakan diskusi kelompok bersama pelaksana lapangan
c.Pelaksana Lapangan
Melakukan surveilans dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.Menyiapkan Lembar Pengumpul Data (LPD) untuk setiap penderita
2.melakukan pengamatan dan penetapan diagnosis
3.mengumpulkan data yang selanjutnya diolah bersama tim pengendalian infeksi.
Kewaspadaan standar untuk masing – masing unit kerja tidak sama dan bersifat spesifik, disesuaikan dengan tugas utamanya. Disamping itu, upaya pencegahan harus mampu melindungi petugas itu sendiri. Berlandaskan pada upaya “ memotong rantai penularan “, maka secara umum kewaspadaan standar terperinci sebagai berikut :





Posisi dan koordinasi tugas Panitia Medis Pengendalian Infeksi dapat dilihat pada bagan berikut:

Bagan 1. Posisi dan Koordinasi tugas Panitia Medik Pengendalian Infeksi
Ket:
PL.PI : Pelaksana Lapangan Pengendalian Infeksi
MP : Manajemen Perawatan
(a) : Garis Struktural fungsional (organisasi)
(b) : Garis koordinasi tugas pengendalian infeksi
(c) : Arus informasi
(d) : Arus balik informasi = output



Inti dari tugas dan tanggungjawab Panitia Medis Pengendalian Infeksi adalah mencari, mengidentifikasi infeksi nosokomial, yang selanjutnya dikumpulkan, diolah, dianalisis dan disajikan sebagai bahan informasi kepada pihak manajemen atau direktur RS. Informasi tersebut antara lain:
1.Angka kejadian infeksi nosokomial secara menyeluruh dalam kurun waktu tertentu disertai presentasenya untuk masing-masing jenis infeksi nosokomial
2.Perkembangan angka kejadian masing-masing infeksi nosokomial saat ini dibandingkan dengan laporan periode sebelumnya
3.Prosedur dan tindakan medis atau perawatan yang dicurigai sebagai penyebab atau factor resiko
4.Jenis kasus atau penyakit dasar yang diserang infeksi nosokomial
5.Peta mikroba pathogen sebagai hasil kajian laboratorium mikrobiologi
6.Ruang perawatan yang paling banyak ditemukan kasus infeksi nosokomial
Informasi yang disampaikan oleh Panitia Medis Pengendalian InfeksI kepada pihak manajemen atau direktur RS akan dijadikan sebagai masukan untuk pembenahan atau koreksi pelayanan medis. Direktur RS merekomendasikan temuan dan analisis Panitia Medis Pengendalian Infeksi ke jajaran di bawahnya, yaitu ke masing-masing Unit Pelaksana Fungsional sebagai umpan balik/ feedback. Mekanisme kerjanya yaitu antara input yang dilaporkan Panitia Medis Pengendalian Infeksi dan output sebagai bahan koreksi yang harus diinformasikan ke manajemen pelayanan medis RS, maka diharapkan akan selalu ada pengawasan dan penilaian terhadap mutu pelayanan medis.
Agar organisasi Panitia Medis Pengendalian Infeksi dapat berjalan dengan baik dan efektif, maka perlu adanya sejumlah personalia yang disusun dengan memperhatikan keahlian dan senioritasnya, dengan gambaran sbb:
a.Panitia Medis Pengendalian Infeksi
1.Ketua
Seorang dokter (senior) yang duduk sebagai staf dari wakil direktur pelayanan medis RS
2.Sekretaris
Sarjana keperawatan (senior)
3.Anggota
Dokter ahli mikrobiologi
Dokter ahli epidemiologi
Sarjana keperawatan (senior)
b.Tim pengendali Infeksi
1.Ketua
Dokter kepala dari salah satu Unit Pelaksana Fungsional
2.Sekretaris
Sarjana keperawatan (senior) dari salah satu Unit Pelaksana Fungsional
3.Anggota
Dokter kepala dari masing-masing Unit Pelaksana Fungsional
Dokter kepala dari kamar bedah
Dokter kepala dari kamar bersalin
Dokter kepala laboratorium medis
Kepala instalasi farmasi
Kepala instalasi CSSD/ISS
Perawat dari masing-masing Unit Pelaksana Fungsional
Ahli sanitasi
c.Pelaksana Lapangan
Terdiri dari 2 atau 3 perawat yang terlatih di tiap Unit Pelaksana Fungsional



REFERENSI
Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomia: Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika
Poskan Komentar